.jpeg) |
| Tabel HIRADC |
Safety Blog-Membuat tempat kerja yang bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja (PAK) bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan kewajiban moral dan hukum setiap organisasi. Salah satu pilar paling krusial dalam sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)—baik berbasis ISO 45001:2018 maupun PP No. 50 Tahun 2012 (SMK3)—adalah dokumen HIRADC.
HIRADC merupakan singkatan dari Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, dan Penetapan Pengendalian). Dokumen ini biasanya disajikan dalam bentuk tabel sistematis yang memetakan seluruh potensi bahaya di area kerja, mengukur seberapa besar risikonya, dan menentukan tindakan pencegahan yang wajib diterapkan.
Jika Anda seorang Safety Officer, manajer operasional, atau pemilik usaha yang sedang menyusun atau memperbarui dokumen K3, artikel ini menyajikan panduan mendalam tentang cara membuat tabel HIRADC yang efektif, andal, dan mudah diimplementasikan di lapangan.
Memahami Konsep Dasar HIRADC
Sebelum masuk ke teknis penyusunan kolom demi kolom, Anda harus memahami tiga komponen utama yang membentuk HIRADC:
- Hazard Identification (Identifikasi Bahaya): Proses mengenali semua sumber, situasi, atau tindakan yang berpotensi menimbulkan cedera, penyakit, kerusakan properti, atau kerusakan lingkungan.
- Risk Assessment (Penilaian Risiko): Proses mengevaluasi tingkat risiko yang timbul dari bahaya tersebut. Risiko dihitung berdasarkan kombinasi antara Kemungkinan terjadi (Likelihood/Probability) dan Tingkat Keparahan (Severity/Consequence).
- Determining Control (Penetapan Pengendalian): Merumuskan langkah-langkah untuk menghilangkan atau mengurangi risiko hingga mencapai tingkat yang dapat diterima (acceptable risk) berdasarkan Hierarki Pengendalian Risiko.
Tabel HIRADC bukan dokumen statis yang sekali buat langsung disimpan di dalam lemari. Dokumen ini adalah panduan hidup (living document) yang harus dinamis mengikuti perubahan operasional di tempat kerja.
Komponen dan Struktur Standar Tabel HIRADC
Tabel HIRADC yang komprehensif umumnya terdiri dari beberapa kolom utama yang saling berurutan secara logis. Berikut adalah struktur standar yang paling banyak digunakan di industri profesional:
| No |
Elemen Kolom |
Fungsi dan Penjelasan |
| 1 |
No / Kode Aktivitas |
Nomor urut atau kode referensi untuk identifikasi tugas/area. |
| 2 |
Lokasi / Departemen |
Area spesifik tempat aktivitas berlangsung (misal: Bengkel Las, Gudang, Area Kantor). |
| 3 |
Aktivitas / Proses Kerja |
Detail pekerjaan yang dinilai, dipisah antara aktivitas Rutin (sehari-hari) dan Non-Rutin (perbaikan/maintenance berkala). |
| 4 |
Identifikasi Bahaya (Hazard) |
Sumber atau situasi yang berpotensi menyebabkan bahaya (mekanis, kimia, fisik, ergonomi, biologi, psikososial). |
| 5 |
Risiko / Dampak (Risk) |
Kerugian atau cedera nyata yang dapat terjadi akibat bahaya tersebut (misal: tersengat listrik, luka bakar, patah tulang). |
| 6 |
Kondisi |
Status operasional saat potensi bahaya dinilai: Normal (operasional biasa), Abnormal (start-up/shut-down), atau Emergency (keadaan darurat). |
| 7 |
Pengendalian yang Ada (Existing Control) |
Prosedur, alat, atau sistem keselamatan yang saat ini sudah berjalan di lapangan. |
| 8 |
Penilaian Risiko Awal (Initial Risk) |
Nilai Kemungkinan (P) Keparahan (S) Tingkat Risiko sebelum ada pengendalian tambahan. |
| 9 |
Pengendalian Tambahan (Determining Control) |
Rencana pengendalian baru menggunakan 5 Hierarki Pengendalian untuk menurunkan risiko. |
| 10 |
Penilaian Risiko Sisa (Residual Risk) |
Evaluasi ulang tingkat risiko setelah pengendalian tambahan direncanakan/diterapkan. |
| 11 |
Penanggung Jawab (PIC) dan Target |
Nama/jabatan personel yang bertanggung jawab mengimplementasikan pengendalian beserta batas waktunya. |
Langkah demi Langkah Cara Membuat Tabel HIRADC
Untuk memastikan tabel HIRADC Anda tidak sekadar memenuhi formalitas audit tetapi benar-benar mencegah kecelakaan kerja, ikuti prosedur penyusunan berurutan berikut ini.
1.Pembentukan Tim K3 dan Pengumpulan Informasi
Langkah awal berbasis kolaborasi lintas departemen.
Jangan menyusun HIRADC sendirian di meja kerja (desk study). Bentuk tim terpadu yang melibatkan Safety Officer, Supervisor Lapangan, Teknisi, dan Perwakilan Pekerja (Operator).
Kumpulkan data pendukung seperti:
- Layout pabrik/area kerja.
- Standard Operating Procedure (SOP) pekerjaan.
- Data Lembar Keselamatan Bahan (MSDS/LDKB) untuk bahan kimia.
- Laporan historis kecelakaan kerja dan near-miss (hampir celaka) di masa lalu.
2. Inventarisasi Seluruh Aktivitas Kerja:
Breakdown pekerjaan menjadi langkah-langkah spesifik.
Pecah seluruh operasional perusahaan menjadi proses-proses kecil. Pastikan Anda mengidentifikasi:
- Aktivitas Rutin: Pekerjaan harian seperti mengoperasikan mesin bubut, mengemudikan forklift, atau mengetik di komputer.
- Aktivitas Non-Rutin: Pekerjaan berkala seperti perawatan mesin tahunan (overhaul), pembersihan tangki, atau perbaikan atap.
- Aktivitas Pihak Ketiga: Kegiatan kontraktor, pendorong/supplier, atau tamu yang masuk ke area kerja.
3.Identifikasi Bahaya dan Jenis Risiko
Temukan sumber bahaya di setiap tahapan kerja.
Amati langsung di lapangan (Genba/Gemba walk). Identifikasi potensi bahaya dari 6 kategori utama:
- Fisik: Bising, getaran, radiasi, suhu ekstrem, pencahayaan buruk.
- Kimia: Debu beracun, uap pelarut, gas mudah terbakar, asam/basa keras.
- Biologi: Virus, bakteri, jamur, gigitan hewan beracun.
- Mekanis / Elektrik: Komponen mesin berputar tanpa pelindung, kabel terkelupas, benda jatuh.
- Ergonomi: Postur janggal, pengangkatan beban berat secara manual, gerakan berulang.
- Psikososial: Stres kerja berlebih, waktu kerja shift malam, beban kerja mental.
4. Analisis dan Penilaian Risiko (Risk Rating)
Menghitung matriks Kemungkinan x Keparahan.
Tentukan nilai skala Probability/Likelihood (P) dan Severity/Consequence (S) untuk setiap bahaya yang diidentifikasi. Kalikan kedua nilai tersebut untuk mendapatkan Risk Level (Tingkat Risiko):
Tingkat Risiko (Risk Rating) = Likelihood (P) X Severity (S)
Klasifikasikan hasil perkalian ke dalam matriks penilaian risiko (Ekstrem, Tinggi, Sedang, atau Rendah).
5. Penetapan Pengendalian Risiko Tambahan
Menerapkan prinsip Hierarki Pengendalian K3.
Jika hasil penilaian risiko berada pada kategori Tinggi atau Ekstrem, Anda wajib menentukan pengendalian tambahan. Selalu prioritaskan tindakan berdasarkan 5 Hierarki Pengendalian Risiko:
- Eliminasi (Menghilangkan sumber bahaya secara total).
- Substitusi (Mengganti bahan/alat/proses dengan yang lebih aman).
- Rekayasa Teknik / Engineering Control (Isolasi bahaya, pasang guarding, ventilasi).
- Pengendalian Administratif (SOP, ijin kerja/PTW, rotasi kerja, pelatihan).
- Alat Pelindung Diri / APD (Helm, sepatu safety, respirator, harness).
6.Penilaian Risiko Sisa (Residual Risk)
Memastikan tindakan pengendalian efektif menurunkan risiko.
Hitung kembali nilai Kemungkinan dan Keparahan setelah pengendalian tambahan direncanakan atau diterapkan. Nilai Risiko Sisa (Residual Risk) harus berada pada tingkat yang dapat diterima (Low atau Medium dengan pengawasan). Jika nilainya masih High, cari pilihan pengendalian lain yang lebih kuat.
Dokumentasi, Sosialisasi, dan Review
Mengubah dokumen menjadi budaya kerja nyata.
Sahkan tabel HIRADC dengan tanda tangan Manajemen Puncak dan Ketua P2K3. Sosialisasikan isi HIRADC kepada seluruh pekerja melalui Safety Talk, Toolbox Meeting, atau induksi K3. Tetapkan jadwal pembaruan berkala.
Menentukan Skala Penilaian Risiko (Matriks K3)
Agar penilaian risiko dalam tabel HIRADC obyektif dan konsisten, Anda perlu menetapkan kriteria nilai untuk Likelihood (Kemungkinan) dan Severity (Keparahan). Kriteria skala 5x5 di bawah ini paling sering digunakan standar internasional:
1. Skala Kemungkinan (Likelihood / Probability)
| Skala |
Kategori |
Deskripsi Frekuensi |
| 1 |
Sangat Jarang (Rare) |
Belum pernah terjadi di industri, kemungkinan terjadi sangat kecil. |
| 2 |
Jarang (Unlikely) |
Jarang terjadi, mungkin muncul 1 kali dalam kurun waktu beberapa tahun. |
| 3 |
Kadang-Kadang (Possible) |
Dapat terjadi sewaktu-waktu (misal: 1 kali dalam setahun). |
| 4 |
Sering (Likely) |
Sangat mungkin terjadi beberapa kali dalam setahun. |
| 5 |
Hampir Pasti (Almost Certain) |
Hampir pasti terjadi secara rutin (berkali-kali dalam sebulan/seminggu). |
2. Skala Keparahan (Severity / Consequence)
| Skala |
Kategori |
Dampak Kesehatan / Manusia |
Dampak Operasional / Kerugian |
| Baris 1 |
Sangat Ringan |
Cedera ringan, hanya butuh P3K (First Aid), langsung kerja kembali. |
Kerugian finansial minim, tidak ada waktu kerja terbuang. |
| 2 |
Ringan |
Perawatan medis profesional (Medical Treatment), tanpa kehilangan hari kerja. |
Gangguan proses kecil, waktu terbuang kurang dari 1 shift. |
| 3 |
Sedang |
Cedera yang menyebabkan kehilangan hari kerja (Lost Time Injury/LTI), cedera sementara. |
Proses produksi terhenti sementara, kerugian sedang. |
| 4 |
Berat |
Cacat permanen atau kehilangan anggota tubuh, cedera parah pada lebih dari 1 orang. |
Kerusakan fasilitas berat, penghentian operasional sementara. |
| 5 |
Bencana / Fatal |
Kematian (Fatality) satu orang atau lebih. |
Kerusakan total aset, kebangkrutan, atau tuntutan hukum berat. |
3. Matriks Matrik Penilaian Risiko (5 X 5) dan Tindakan Lanjutan
| Kemungkinan \ Keparahan |
1 (Sangat Ringan) |
2 (Ringan) |
3 (Sedang) |
4 (Berat) |
5 (Fatal) |
| 5 (Hampir Pasti) |
Sedang (5) |
Tinggi (10) |
Ekstrem (15) |
Ekstrem (20) |
Ekstrem (25) |
| 4 (Sering) |
Rendah (4) |
Sedang (8) |
Tinggi (12) |
Ekstrem (16) |
Ekstrem (20) |
| 3 (Kadang) |
Rendah (3) |
Sedang (6) |
Sedang (9) |
Tinggi (12) |
Ekstrem (15) |
| 2 (Jarang) |
Rendah (2) |
Rendah (4) |
Sedang (6) |
Sedang (8) |
Tinggi (10) |
| 1 (Sangat Jarang) |
Rendah (1) |
Rendah (2) |
Rendah (3) |
Sedang (4) |
Sedang (5) |
- Ekstrem (Nilai 15 - 25): Pekerjaan Wajib Dihentikan segera. Diperlukan tindakan pengendalian langsung dari Manajemen Puncak sebelum pekerjaan boleh dilanjutkan.
- Tinggi (Nilai 10 - 12): Perlu pengendalian teknis/manajerial secepatnya. Memerlukan izin kerja khusus (Work Permit).
- Sedang (Nilai 5 - 9): Risiko dapat diterima, namun memerlukan prosedur kerja standar (SOP), instruksi kerja jelas, dan APD yang tepat.
- Rendah (Nilai 1 - 4): Risiko dapat diterima. Kelola dengan pemantauan rutin dan kesadaran pekerja.
Memahami 5 Hierarki Pengendalian Risiko
Dalam pengisian kolom Determining Control pada tabel HIRADC, kesalahan paling umum adalah langsung melompat ke penggunaan APD (Alat Pelindung Diri). Menurut standar K3 internasional, APD adalah pertahanan terakhir (last line of defense), bukan solusi utama.
[1. ELIMINASI] ---> Hilangkan Bahaya Secara Total (Paling Efektif)
[2. SUBSTITUSI] ---> Ganti Bahan/Proses Lebih Aman
[3. REKAYASA TEKNIK]---> Isolasi Bahaya (Guard/Ventilasi/Sistem Otomatis)
[4. ADMINISTRATIF] ---> SOP, Pelatihan, Izin Kerja, Shift Kerja
[5. APD] ---> Gunakan Helm, Sepatu, Masker, Harness (Paling Akhir)
1. Eliminasi: Menghilangkan sumber bahaya. Contoh: Menghentikan penggunaan mesin tua yang berbahaya dan mengganti dengan metode digital otomatis.
2. Substitusi: Mengganti zat atau mesin berbahaya dengan opsi yang lebih aman. Contoh: Mengganti cat berbahan dasar pelarut organik (solvent-based) dengan cat berbahan dasar air (water-based).
3. Rekayasa Teknik (Engineering Control): Memodifikasi peralatan atau lingkungan untuk mengisolasi bahaya dari pekerja. Contoh: Memasang penutup mesin (safety guard), sistem hisap uap beracun (local exhaust ventilation), atau peredam suara mesin.
4. Pengendalian Administratif: Menyesuaikan pola kerja manusia agar risiko berkurang. Contoh: Penyusunan SOP baru, pembatasan jam kerja di area bising (rotasi kerja), dan pelatihan K3 berkala.
5. Alat Pelindung Diri (APD): Melindungi tubuh pekerja jika bahaya tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Contoh: Menggunakan helm keselamatan, kacamata goggle, penyumbat telinga (earplug), masker respirator, dan sabuk pengaman (full body harness).
 |
| Panduan HIRADC |
Contoh Aplikasi Tabel HIRADC Praktis
Berikut adalah simulasi tabel HIRADC nyata untuk 3 skenario pekerjaan di lingkungan industri manufaktur dan konstruksi:
| No |
Aktivitas Kerja |
Potensi Bahaya (Hazard) |
Risiko / Dampak |
Kon |
Pengendalian Eksisting |
P1 |
S1 |
Risk1 |
Pengendalian Tambahan (Hierarki) |
P2 |
S2 |
Risk2 |
PIC dan Target |
| 1 |
Pengelasan struktur baja (Welding) di area bengkel. |
Uap radiasi UV, percikan api, uap kimia (fumes). |
Kerusakan mata (photokeratitis), luka bakar, gangguan pernapasan. |
N |
APD standar (kacamata biasa). |
4 |
4 |
12 (Tinggi) |
- Rekayasa: Pasang Exhaust Fan portable.
- Admin: Buat SOP Pengelasan.
- APD: Gunakan Topeng Las (Welding Hood) dan Respirator.
|
2 |
3 |
6 (Sedang) |
Spv. Fabrikasi (1 Minggu) |
| 2 |
Perbaikan lampu di ketinggian 5 meter. |
Bekerja di ketinggian, tangga lipat licin/tidak stabil. |
Pekerja jatuh dari ketinggian, patah tulang, kecacatan/kematian. |
N |
Memegang tangga secara manual oleh tim. |
3 |
5 |
15 (Ekstrem) |
- Substitusi/Rekayasa: Gunakan Scaffolding resmi atau Scissor Lift.
- Admin: Terbitkan Izin Kerja di Ketinggian (Working at Height Permit).
- APD: Pakai Full Body Harness terikat di lifeline.
|
1 |
4 |
4 (Rendah) |
Tim Maintenance (3 Hari) |
| 3 |
Pengoperasian Forklift mengangkut barang di gudang. |
Jalur pejalan kaki dan jalur forklift bersatu, blind spot. |
Pejalan kaki tertabrak forklift, cedera berat. |
N |
Klakson forklift dibunyikan saat belok. |
4 |
4 |
16 (Ekstrem) |
- Rekayasa: Pasang barikade pemisah jalan pejalan kaki dan jalur forklift.
- Admin: Batasi kecepatan forklift maks 10 km/jam dan pasang kaca cembung (convex mirror).
|
1 |
4 |
4 (Rendah) |
Manajer Gudang (2 Minggu) |
Keterangan Singkat: Kon = Kondisi (N: Normal); P1/S1/Risk1 = Nilai Awal; P2/S2/Risk2 = Nilai Sisa (Residual).
Kesalahan Fatal dalam Penyusunan Tabel HIRADC
Arahkan perhatian Anda pada beberapa kekeliruan yang paling sering terjadi saat menyusun tabel HIRADC agar dokumen yang Anda hasilkan berkualitas tinggi:
- Menyampuradukkan Bahaya (Hazard) dan Risiko (Risk):
- Salah: Bahaya = Terjatuh dari tangga.
- Benar: Bahaya = Bekerja di ketinggian (tangga). Risiko = Terjatuh dari tangga hingga mengalami patah tulang.
- Hanya Fokus pada Aktivitas Rutin: Banyak tim K3 lupa mengidentifikasi pekerjaan perawatan (maintenance), pembersihan tangki, atau kondisi darurat seperti kebakaran atau kebocoran gas.
- Ketergantungan Berlebihan pada APD: Menuliskan APD sebagai satu-satunya bentuk pengendalian tanpa mempertimbangkan rekayasa teknik atau langkah administratif.
- Penyusunan Tunggal Tanpa Tim (Desk Study): Menyusun HIRADC sendirian di dalam ruangan tanpa turun mengecek kondisi riil di lapangan (Genba) dan tanpa bertanya kepada operator mesin.
- Tidak Menentukan PIC dan Target Waktu: Rencana pengendalian tambahan hanya menjadi wacana di atas kertas karena tidak ada personel yang ditunjuk secara eksplisit untuk mengeksekusinya.
Kapan Tabel HIRADC Harus Diperbarui?
Tabel HIRADC bukanlah dokumen statis. Audit sistem manajemen ISO 45001 dan SMK3 mewajibkan peninjauan ulang (review) HIRADC secara berkala atau jika terjadi situasi berikut:
- Terjadi Kecelakaan Kerja (Accident) atau Hampir Celaka (Near-miss): Evaluasi apakah bahaya penyebab insiden sudah terdaftar di HIRADC atau apakah pengendalian yang ada ternyata tidak efektif.
- Adanya Perubahan Operasional: Pembelian mesin baru, penggunaan bahan kimia jenis baru, perubahan tata letak (layout) pabrik, atau perubahan alur proses kerja.
- Pembaruan Peraturan / Regulasi K3: Terbitnya undang-undang atau standar teknis baru dari pemerintah/kementerian ketenagakerjaan.
- Peninjauan Rutin Tahunan: Minimal dilakukan 1 kali dalam setahun sebagai bagian dari evaluasi kinerja Manajemen K3 perusahaan.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip di atas secara disiplin, tabel HIRADC yang Anda buat tidak hanya berfungsi sebagai syarat kelulusan audit, tetapi benar-benar menjadi perisai utama dalam melindungi jiwa dan kesehatan seluruh tenaga kerja di perusahaan Anda.
FAQ Seputar HIRADC dan K3 di Tempat Kerja
1. Apa bedanya HIRADC, JSA (Job Safety Analysis), dan IBPR?
IBPR (Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko) hanyalah istilah bahasa Indonesia untuk HIRADC. Keduanya adalah hal yang sama.
Perbedaan utamanya ada pada JSA:
- HIRADC (Makro): Memetakan seluruh potensi bahaya secara menyeluruh di satu departemen, area kerja, atau proses bisnis secara garis besar. Dokumen ini menjadi acuan utama sistem manajemen K3.
- JSA (Mikro): Membedah satu jenis pekerjaan spesifik secara detail, step-by-step dari awal sampai akhir (misal: "JSA Pekerjaan Pembersihan Tangki BBM"). JSA digunakan langsung oleh pekerja di lapangan sebelum memulai tugas berisiko tinggi.
2. Apakah matriks penilaian risiko wajib pakai skala 5 X 5 ?
Tidak wajib. Standar ISO 45001 maupun SMK3 (PP No. 50/2012) tidak mematok ukuran matriks secara kaku.
Anda bebas menggunakan matriks 3 X 3,4 X 4, atau 5 X 5, selama kriteria Likelihood (Kemungkinan) dan Severity (Keparahan) didefinisikan secara jelas, objektif, serta disepakati oleh tim K3 perusahaan. Matriks 5 X 5 menjadi pilihan paling populer karena memberikan rentang penilaian yang cukup detail tanpa terlalu rumit.
3. Bolehkah perusahaan kecil atau bisnis UMKM membuat tabel HIRADC versi sederhana?
Sangat boleh. Prinsip K3 adalah proporsional terhadap tingkat risiko.
Untuk usaha kecil atau lingkungan kantor (office space), tabel HIRADC tidak perlu serumit pabrik manufaktur. Fokuskan pada bahaya yang relevan di area kerja Anda, seperti:
- Ergonomi: Posisi duduk dan penggunaan layar komputer durasi panjang.
- Elektrikal: Kabel menumpuk atau overload stopkontak.
- Fisik & Psikososial: Pencahayaan ruangan, stres kerja, dan jalur evakuasi kebakaran.
4. Apa kesalahan paling sering yang bikin dokumen HIRADC ditolak auditor ISO/SMK3?
Berdasarkan pengalaman audit K3, ada 3 kesalahan klasik yang paling sering ditemui:
- Dokumen Hasil Copy-Paste: Mengambil tabel HIRADC milik perusahaan lain tanpa melakukan Genba (observasi lapangan langsung).
- Asal Menurunkan Risiko Sisa (Residual Risk): Mengisi kolom risiko sisa menjadi "Rendah" hanya karena menambahkan pengendalian berupa APD, padahal bahaya utamanya belum dikendalikan lewat teknik atau administratif.
- Kolom PIC & Target Waktu Kosong: Pengendalian tambahan dirumuskan, tetapi tidak ada kejelasan siapa yang mengeksekusi dan kapan batas waktunya.
5. Jika kecelakaan tetap terjadi padahal kontrol di HIRADC sudah lengkap, siapa yang bertanggung jawab?
Tabel HIRADC di atas kertas tidak otomatis menghapus tanggung jawab hukum jika implementasi di lapangan tidak berjalan.
Dalam investigasi kecelakaan kerja, yang diperiksa adalah:
- Apakah pengendalian yang tertulis di HIRADC benar-benar diterapkan di lapangan?
- Apakah pekerja sudah mendapatkan sosialisasi dan pelatihan terkait prosedur kerja tersebut?
- Apakah supervisor melakukan pengawasan rutin?
Jika pengendalian di HIRADC hanya sebatas teori tanpa pengawasan dan fasilitas nyata dari manajemen, perusahaan tetap dianggap lalai.
6. Mengapa APD selalu ditempatkan di posisi paling bawah dalam Hierarki Pengendalian?
Karena APD tidak mengurangi atau menghilangkan bahaya, melainkan hanya memberi penghalang antara tubuh pekerja dan bahaya tersebut.
Jika kacamata keselamatan (safety goggles) retak, atau pekerja lupa memakainya selama 5 detik saja, bahaya percikan bahan kimia tetap dapat merusak mata. Sebaliknya, jika bahaya dihilangkan dari sumbernya (Eliminasi) atau diisolasi dengan mesin otomatis (Rekayasa Teknik), pekerja akan tetap aman meskipun human error terjadi.
7. Seberapa sering tabel HIRADC harus ditinjau ulang (review)?
HIRADC dianjurkan untuk ditinjau ulang minimal 1 kali dalam sebulan atau setahun secara berkala. Namun, peninjauan ulang wajib segera dilakukan tanpa menunggu jadwal tahunan jika terjadi situasi berikut:
- Terjadi kecelakaan kerja (accident) atau insiden hampir celaka (near-miss).
- Ada pemasangan mesin baru, perubahan bahan baku, atau modifikasi proses kerja.
- Terbitnya peraturan/regulasi K3 terbaru dari pemerintah.
- Terdapat masukan atau komplain keselamatan dari pekerja di lapangan.