Mengenal UU PPRT: Panduan Lengkap Hak, Kewajiban, dan Perlindungan Pekerja Rumah Tangga di Indonesia

Table of Contents

 

UU PPRT
UU PPRT

Safety Blog-Pengesahan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) menjadi milestone bersejarah dalam ketenagakerjaan Indonesia. Setelah melalui proses pembahasan panjang selama lebih dari dua dekade, payung hukum ini akhirnya hadir untuk memberikan kepastian hukum, perlindungan, serta kejelasan hubungan kerja di sektor domestik.  

Kehadiran UU PPRT tidak hanya memberikan angin segar bagi jutaan pekerja rumah tangga (PRT) di seluruh Indonesia, tetapi juga memberikan kepastian dan perlindungan bagi pemberi kerja serta lembaga penyalur. Regulasi ini menegaskan bahwa sektor perawatan dan pekerjaan rumah tangga merupakan bagian penting dari roda perekonomian nasional yang memerlukan landasan hukum berkeadilan.


Urgensi Perlindungan Hukum Sektor Domestik

Selama ini, hubungan kerja antara PRT dan pemberi kerja kerap kali didasarkan pada kesepakatan informal tanpa batasan yang jelas. Kondisi ini rentan memicu berbagai permasalahan teknis maupun hukum, mulai dari ketidakjelasan jam kerja, ketidakpastian upah, penahanan dokumen pribadi, hingga minimnya jaminan sosial dan perlindungan dari perlakuan tidak adil.  

Melalui penetapan UU PPRT, negara hadir untuk mengubah paradigma pekerjaan domestik dari pola informal menjadi hubungan kerja yang profesional dan bermartabat. Pengakuan ini juga sejalan dengan semangat Konvensi ILO 189 mengenai pekerjaan yang layak bagi pekerja rumah tangga.  


Elemen Penting dalam UU PPRT

UU PPRT mengatur berbagai aspek mendasar guna menciptakan ekosistem kerja domestik yang seimbang. Regulasi ini menekankan hak dan kewajiban masing-masing pihak agar tercipta lingkungan kerja yang harmonis.  

  •  Pengakuan ResmiStatus Pekerja: PRT kini secara tegas diakui sebagai tenaga kerja yang berhak mendapatkan perlindungan hukum dan jaminan hak-hak dasar ketenagakerjaan.  
  •  Perjanjian Kerja yang Jelas: Setiap hubungan kerja wajib didasari oleh perjanjian kerja atau kesepakatan tertulis maupun lisan yangmemuat lingkup tugas, besaran upah, jam kerja, serta hak istirahat.  
  •  SkemaPerekrutan Transparan: Perekrutan dapat dilakukan secara langsung oleh pemberi kerja atau melalui Perusahaan Penempatan Pekerja Rumah Tangga (P3RT) yang terdaftar dan terawasi.  
  •  Jaminan Sosialdan Kesehatan: PRT berhak diikutsertakan dalam program jaminan kesehatan serta jaminan sosial ketenagakerjaan.  
  •  Perlindungan Dokumendan Upah: P3RT atau pihak ketiga dilarang keras menahan dokumen pribadi PRT seperti KTP atau ijazah serta dilarang melakukan pemotongan upah sepihak.

Hak dan Kewajiban Pihak Terkait

Untuk memahami secara konkret bagaimana UU PPRT bekerja di lapangan, berikut merupakan pembagian hak dan kewajiban bagi PRT dan pemberi kerja:

Pihak Hak Utama Kewajiban Utama
Pekerja Rumah Tangga (PRT) Menerima upah tepat waktu, mendapatkan waktu istirahat dan cuti, memperoleh Tunjangan Hari Raya (THR), serta jaminan keselamatan kerja. Melaksanakan tugas sesuai perjanjian kerja, menjaga kerahasiaan dan keamanan rumah tangga pemberi kerja, serta menghormati norma keluarga.
Pemberi Kerja Memperoleh hasil pekerjaan yang sesuai kesepakatan, mendapatkan kerahasiaan rumah tangga yang terjaga, serta perlakuan yang baik dari pekerja. Membayar upah sesuai kesepakatan, memberikan waktu istirahat yang layak, menyediakan fasilitas kerja yang aman, serta mendaftarkan jaminan sosial.

Tata Cara Perekrutan dan Perjanjian Kerja

Proses hubungan kerja dalam UU PPRT mengedepankan asas kekeluargaan yang tetap berlandaskan kepastian tertulis. Hal ini membantu meminimalkan potensi perselisihan di kemudian hari.

1. Perekrutan Langsung

Pemberi kerja dan PRT sepakat membuat Perjanjian Kerja secara langsung. Perjanjian ini sebaiknya dibuat secara tertulis dan memuat setidaknya lima hal pokok:  
  •  Identitas para pihak (Pemberi Kerja dan PRT).
  •  Rincian tugas pekerjaan (misalnya memasak, merawat anak, atau membersihkan rumah).
  •  Hak upah, metode pembayaran, serta jadwal pemberian Tunjangan Hari Raya (THR).  
  •  Jam kerja bulanan/harian serta penetapan hari libur mingguan.
  •  Ketentuan mengenai pengakhiran hubungan kerja dan penyelesaian perselisihan.  

2. Perekrutan Melalui P3RT

Jika perekrutan memanfaatkan jasa P3RT, lembaga penempatan wajib memastikan bahwa calon PRT telah mendapatkan pelatihan vokasi yang memadai. P3RT bertanggung jawab atas keabsahan identitas pekerja serta dilarang membebankan biaya penempatan yang memberatkan atau menahan ijazah dan kartu identitas PRT.

Penyelesaian Perselisihan dan Pengawasan  

UU PPRT mendorong pendekatan musyawarah mufakat sebagai langkah utama apabila terjadi masalah antara PRT dan pemberi kerja.
Pengawasan di tingkat komunitas juga melibatkan peran lingkungan setempat seperti pengurus RT dan RW. Mekanisme ini membantu memastikan bahwa perlakuan tidak adil, kekerasan, atau penelantaran dapat dicegah secara dini di lingkungan rukun tetangga. Apabila musyawarah tidak mencapai titik temu, penyelesaian dapat diteruskan melalui tahapan mediasi ketenagakerjaan sesuai mekanisme hukum yang berlaku.  

Manfaat Jangka Panjang Bagi Masyarakat

Penerapan UU PPRT memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia secara luas:  
  •  Meningkatkan StandarKeterampilan: Dengan adanya pelatihan vokasi, PRT memiliki keahlian yang terstandarisasi sehingga kualitas kerja di rumah tangga semakin meningkat.  
  •  KeamananHukum bagi Pemberi Kerja: Adanya kesepakatan tugas yang tertulis menghindarkan pemberi kerja dari ketidakpastian tanggung jawab pekerjaan sehari-hari.
  •  MendukungEkonomi Perawatan: Pekerjaan domestik yang terkelola dengan baik memungkinkan para profesional di sektor publik maupun swasta untuk bekerja lebih produktif, mengetahui bahwa urusan rumah tangga mereka ditangani oleh tenaga kerja yang terlindungi dan kompeten.
Implementasi UU PPRT merupakan langkah nyata dalam membangun tatanan sosial yang lebih adil dan memanusiakan setiap profesi. Dengan memahami hak dan kewajiban masing-masing, baik pekerja maupun pemberi kerja dapat menjalin hubungan kerja yang harmonis, saling menghargai, dan berlandaskan rasa saling percaya.

FAQ Seputar UU PPRT

Apakah UU PPRT berlaku untuk semua jenis pekerjaan rumah tangga?

Ya, UU PPRT melingkupi seluruh pekerja yang melakukan pekerjaan domestik, baik yang tinggal dalam rumah maupun luar rumah (part-time), seperti asisten rumah tangga, pengasuh anak, perawat lansia, sopir pribadi, dan juru masak.

Apakah pemberi kerja wajib membuat perjanjian kerja tertulis?

UU PPRT mendorong adanya kesepakatan kerja yang jelas. Perjanjian tertulis sangat dianjurkan karena memuat rincian tugas, besaran upah, jam kerja, serta jadwal libur secara transparan demi kepastian hukum kedua belah pihak.

Bagaimana aturan mengenai Tunjangan Hari Raya dan hak libur bagi PRT?

Dalam UU PPRT, pekerja rumah tangga berhak mendapatkan Tunjangan Hari Raya serta waktu istirahat harian, mingguan, dan cuti sesuai kesepakatan yang tertuang dalam perjanjian kerja.

Apakah penyalur PRT masih boleh menahan dokumen pribadi seperti KTP atau ijazah?

Dilarang keras. UU PPRT melarang Perusahaan Penempatan Pekerja Rumah Tangga maupun pihak ketiga mana pun untuk menahan dokumen identitas pribadi PRT serta melarang pemotongan gaji secara sepihak.

Bagaimana mekanisme penyelesaian jika terjadi konflik antara PRT dan pemberi kerja?

Penyelesaian diutamakan melalui musyawarah mufakat secara kekeluargaan yang dibantu oleh pengurus lingkungan setempat seperti RT atau RW. Jika musyawarah tidak mencapai titik terang, perselisihan dapat dilanjutkan melalui proses mediasi di dinas ketenagakerjaan.